Berita Terbaru :
Home » , » FILSAFAT SEBAGAI “IBU ILMU”

FILSAFAT SEBAGAI “IBU ILMU”

Oleh: SUARA KRITING Tanggal: 23 April 2013 | 14.34



Kedudukan Filsafat dalam Pengembangan Pikiran, Pengetahuan, dan Ilmu.
Mahasiswa memahami hakikat filsafat sebagai ibu yang mengandung, melahirkan, mengasuh, dan mendewasakan ilmu.

Filsafat telah menunjukkan supremasinya dalam pentas pemikiran dan keilmuan dunia sebagai “IBU ILMU” (the mother of sciences). Sebagai ibu, filsafat telah menunjukkan diri sebagai kekuatan yang mengandung benih-benih pemikiran keilmuan, melahir dan menyusui bayi ilmu, dan terus membina perkembangan ilmu menjadi cabang dan ranting-ranting keilmuan, serta mendewasakan ilmu sebagai ilmu yang otonom dan mandiri.

1.      Filsafat sebagai ibu yang mengandung benih-benih pemikiran keilmuan, mengandaikan bahwa filsafat sebagai ilmu berpikir selalu mengembangkan gagasan-gagasannya, baik dalam alam kesadaran kritis (rasio) maupun dalam pengalaman nyata untuk mencermati permasalahan lingkungan, baik yang menyenangkan maupun yang mencemaskan. Pikiran-pikiran tersebut, tidak dibiarkan berkelana tanpa arah, tetapi memelihara dan membinanya di dalam kandungannya menjadi benih-benih pemikiran keilmuan. Filsafat terus membina benih-benih pemikiran itu menjadi bayi keilmuan yang matang dan siap diluncurkan (dilahirkan) dalam dunia keilmuan secara nyata. 

2.      Sebagai ibu yang melahirkan bayi–bayi ilmu, filsafat membidani sendiri proses kelahiran bayi ilmu dari kandungannya, sehingga membentuk cabang-cabang dan ranting keilmuan baru yang bersifat khusus. Filsafat, dalam hal ini, tidak ingin mati dengan fosil-fosil pemikiran yang hanya bersifat hantu khayalan. Filsafat berusaha membedah dan melahirkan atau meluncurkannya dalam kesegaran pemikiran keilmuan yang mempengaruhi sejarah keilmuan dan menyumbang bagi tugas kebudayaan. Filsafat memiliki hubungan bathiniah dengan ilmu sebagai hubungan ibu kandung dan anak kandung yang sah dalam sebuah tanah air manusia sebagai makhluk berpikir (Homo Sapiens).  

3.      Sebagai ibu kandung yang menyusui ilmu, filsafat memberikan gizi pemikiran dalam berbagai proses diskursus dan ujian-ujian kritis, dengan cara melakukan kritik, koreksi, dan penyempurnaan yang membangun dan menumbuhkan taraf kamatangannya sebagai ilmu-ilmu atau cabang dan ranting keilmuan yang mandiri. Filsafat, karena itu, tidak akan memperlakukan ilmu sebagai budak penguasaan filsafat, tetapi mendorong proses pertumbuhan dan perkembangan ilmu secara otonom. Filsafat berusaha membangun diskursus-diskursus keilmuan, membuka dan membentangkan penemuan-penemuannya dalam bentuk ilmu baru untuk diuji, baik dalam proses uji logis (pola penalaran), uji material (materi pemikiran), serta uji metode, guna ferifikasi dan validasi keilmuan secara kritis dan terbuka. Bahkan, filsafat berperan pula sebagai ibu menyusui, mengasuh, dan mengasah pertumbuhan serta ketajaman ilmu dalam sebuah proses komunikasi antar ilmu dan lintas ilmu. Melalui itu, ilmu atau kegiatan keilmuan dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat, sehingga terhindar dari bahaya sesat pikir, keliru pikir, atau salah pikir.  

Sebagai ibu yang mendewasakan ilmu, filsafat tidak akan pernah mengikat atau membelenggu ilmu di dalam pagarnya. Filsafat terus mendorong kemandirian ilmu-ilmu sehingga ilmu-ilmu mampu mengembangkan pemikiran serata metode-metode yang khas dalam percaturan keilmuan secara global. Filsafat pula yang terus berperan membidani kelahiran benih-benih pemikiran, pengetahuan, dan keilmuan untuk kepentingan praktis, baik dalam bentuk teknologi, industri demi pemenuhuan kebutuhan hidup manusia, maupun upaya klinis dalam penanggulangan dampak negatif pembangunan.(Natho Pigai)
BAGIKAN ARTIKEL INI :

Diposting Oleh : SUARA KRITING

Saat ini anda sedang membaca artikel yang berjudul FILSAFAT SEBAGAI “IBU ILMU”,, Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan berguna untuk anda. Kritik dan saran silahkan tulis di kotak komentar facebook di bawah ini ....

:: Terima Kasih Telah Mengunjungi ! ::

KOMENTAR ANDA:

 
Copyright © 2012. SUARA KRITING powered by SK Blogger
West Papua | publish by Suara Kriting